Thursday, August 1, 2013


24 July 2013
Tanya :
Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya pernah membaca sebuah tulisan yang mengangkat sebuah hadits yang isinya kurang lebih “Barangsiapa siapa yang menghafal Asmaul Husna maka akan dijamin masuk surga”.
Pertanyaan saya adalah, benarkah ada hadits seperti ini? Dan jika benar ada, bagaimana sebaiknya kita memahaminya?
Terima kasih atas jawaban ustadz.
Wassalam.
[M. Abrar via email]
Jawab :
Wa’alaikumussalam wr. wb,
Agaknya hadis yang Anda maksud itu adalah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim melalui Abu Hurairah ra. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, 100 kurang satu, barang siapa ‘menghafalnya’ (Arab: أحصاها ahshâha), dia masuk surga.”
Kata ahshâ mengandung beberapa pengertian. Di antaranya, memang, ‘menghafal’. Tetapi tidak berhenti pada menghafal saja. Dalam kata ahshâ juga terkandung arti ‘memahami’ makna nama-nama Allah itu, sekaligus ‘meneladani’ sifat-sifat Allah itu dalam batas-batas kemanusiaan kita. Jika kita mengerti bahwa Allah itu bersifat Ar-Rahmân (Maha Pengasih) dan Ar-Rahîm (Maha Penyayang), misalnya, maka hendaknya kita juga saling mengasihi dan menyayangi sesama kita, bahkan sesama makhluk di dunia ini. Jika kita mengerti bahwa Allah bersifat atau memiliki nama Al-Ahad (Yang Maha Esa), maka hendaknya kita tidak pernah mengakui bahwa ada pihak lain yang memiliki kekuasaan setara dengan Allah. Jika kita mengerti bahwa Allah memiliki nama Al-‘Adl (Yang Mahaadil), maka kita pun seharusnya menegakkan keadilan walau terhadap diri kita dan kelompok kita sendiri. Dan begitu seterusnya.
Kata ahshâ juga mengandung pengertian kita berdoa dengan menyebut nama-nama Allah, sesuai dengan firman-Nya: Dan Allah memiliki al-asmâ’ al-husnâ (nama-nama yang terbaik) maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-asmâ’ al-husnâ itu. (QS al-A’râf [7]: 180). Ketika kita memohon ampunan, kita sebut Yâ Ghaffâr (Wahai Allah Yang Maha Pengampun). Ketika kita memohon rezeki kita sebut Yâ Razzâq (Wahai Allah Yang Maha Pemberi rezeki). Dan begitu seterusnya.
Jadi, persoalannya bukan pada hadis itu, melainkan lebih pada pemahaman kita yang terlalu harfiah.
Untuk masuk surga tidak sesederhana itu. Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar? Demikian kurang lebih makna firman Allah dalam QS Ali Imran [3]: 142. Untuk masuk surga perlu jihad dalam artinya yang luas dan juga perlu kesabaran, juga dalam artinya yang luas.
Wallahu a’lam.
[M Arifin - Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur'an]

0 komentar:

Post a Comment